Pasundan, adalah sebuah tanah di bagian barat pulau Jawa yang begitu indah dengan segala keeksotisannya. Keadaan alam yang indah, tanah yang subur, berlimpahnya segala kebutuhan penunjang hidup adalah berkah bagi tiap penduduknya, dan kebanggan akan apa yang telah Tuhan berikan atas segalanya itu. Namun, apakah semua sudah ada di tanah yang kita cintai ini? Bagaimana dengan belahan dunia lain yang sudah barang tentu memiliki sesuatu yang tidak ada di tanah yang terkenal dengan keramahan dan kecantikan perempuan Pasundan yang dulu menjadi daya tarik bangsa Belanda untuk singgah, dan akhirnya menjajah bangsa kita selama tiga setengah abad itu? Lalu adakah hasrat untuk membuka mata, membentangkan cakrawala. Sudah pasti ini adalah tugas bagi para generasi muda sebagai wujud bakti dan cinta demi perkembangan Pasundan dan mereka sendiri.

Sebagai generasi dari Suku terbesar di Indonesia, anak muda Sunda memang cenderung menghabiskan masa mudanya di tanah tempat kelahirannya. Dengan segala kenikmatannya itu, tanah Sunda memanjakan rakyatnya, begitupun orang Sunda yang menikmati berkah atas lemah cai mereka. Mungkin tak pernah terpikirkan dalam hati kecil mereka untuk merantau ke tempat yang belum pernah disinggahinya. Para leluhur dan orangtua mempunyai istilah Ulah Kurung Batokeun. Pepatah tersebut menyuratkan kita untuk tidak seperti kura-kura di dalam tempurung yang hanya bisa berdiam diri di tempatnya hidup tanpa tahu dunia diluar cangkang kerasnya. Siratan makna mengemuka dari pepatah itu sebagai dorongan semangat belajar dan mengetahui apa yang belum dijelajahi.

Suhamir, arsitek dan peneliti sejarah Sunda kuno yang wafat di Bandung pada 1966, menemukan naskah kuno yang ditulis oleh Prabu Jayapakuan. Beliau menamakan naskah itu sebagai “ensiklopedi kebudayaan Sunda”.

*”Ini ma upama jalma tandang ka Cina, heubeul mangkuk di Cina, nyaho di karma Cina, di tingkah Cina, di polah Cina, di karampesan Cina; katemu na carek tilu: kanista, madya, utama.”* (Ini mengumpamakan seseorang merantau ke Cina, lama tinggal di Cina, paham perilaku orang Cina, tingkah Cina, ulah Cina, keberesan Cina, dapat memahami bahasa ketiga golongannya, yang rendah, yang menengah, yang tinggi).

Naskah mengungkapkan informasi bahwa orang Sunda suka merantau ke luar tanah airnya, bukan hanya di wilayah nusantara, melainkan juga sampai ke negeri Cina. Mereka biasa merantau dalam waktu yang cukup lama sehingga dapat menguasai bahasa dan kebudayaan bangsa yang didatanginya.

Kulawarga Mahasiswa Sunda Semarang

Adalah Para Mahasiswa dan Pelajar dari Jawa Barat yang rindu ingin berkumpul bersama sanak saudara yang satu suku mendirikan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Sunda (KPMS) pada tanggal 15 Februari 1983. Tujuannya adalah sebagai Wadah berkumpulnya para pelajar dan Mahasiswa dari Undip, UIN Walisongo, Akademi Kepolisian, dan Institusi Pendidikan yang ada di Wilayah Semarang dan Sekitarnya.

Arti Sebuah Eksistensi

Eksistensi sebagai suatu Paguyuban Kedaerahan yang ada dan eksis sejak pertama kali didirikannya 26 tahun masih menjadi dilema yang harus diperhatikan semua pihak. Selama ini KMS hanya memiliki pengakuan di lingkungannya saja. Itupun sudah dengan melakukan publikasi dan konsistensi melaksanakan program kerja selayaknya organisasi yang solid. Namun tetap belum mendapat tempat di lingkungan kampus sebagai organisasi ektrakurikuler kampus yang berwibawa. Pun yang terjadi pada pengakuan KMS di luar Kampus, baik dari tanah kelahiran maupun lingkungan baru